Selasa, 02 September 2014

Semenjak Negara Api Menyerang Lalu Avatar Pun Menghilang

"Bro, lo yakin gue bakal ditrima sama dia?" 
"Yakin, lah dia juga udah suka lama kali sama lo. Lo nya aja oon."
"Aih, boleh bro bantuin gue nanti sore gue mau nembak dia." 
"Atur aja bro gimana enaknya." 
"Okelah bro, ajak aja cewek lo gowes bareng biar dia ada temennya, bro." 
"Gampang, bro."




"Bro, itu yang make baju pramuka turun dari mobil timor, tanyain dah bro, dia namannya ***** bukan?"  
"Oh, dia? oke, bro." 
"Sip, nanti istirahat kasih tau gue bro." 
"Gampang, bro."


"Bro, ada cewek gak?"  
"Buat apa, bro?" 
"Bosen aja gak ada cewek gue." 
"Oke bentar, bro di bbm gue ada nih. Nah, mau gak nih sodara gue. Dia baru putus." 
"Asli, bro? Cakep gak?"  
"Cakep lah ini sodara jauh gue. Gue juga risih dia bbman mulu ama gue. Kayaknya dia kesepian gitu, bro." 
"Boleh, bro oper sini." 
"Ambil aje."


"Gue kan cuma bercandaan, bro sama gue jadian beneran." 
"Jadiin aja, bro lo sama-sama jomblo juga." 
"Boleh juga sih, bro." 
"Jadiin lah, daripada berrcandaan doang. Kasian juga ceweknya pasti dimasukin hati kayak gituan mah, bro." 
"Oke, bro gampang lah ntar." 

Empat percakapan di atas adalah awal dari akhir yang tragis. Sebuah tragedi dimana gue yang menjadi pemeran utama. Untuk menjadi sebuah maha karya, sebuah drama haruslah memiliki ending yang memilukan, menyedihkan dan tidak pantas untuk disebut kebahagiaan.

Keempat percakapan di atas masing-masing memiliki cerita yang dalam, pilu serta durjana. Meskipun demikian, semua cerita memiliki makna tersendiri untuk dipetik pucuknya lalu direbus kemudian sajikan dengan hangat dalam sebuah teh hijau nan wangi aromannya.

Untuk itu, gue rasa ini menjadi cerita yang pantas untuk ditunggu. Cerita yang sudah lama gue simpan sendiri. Gue gak mau cerita itu usang mengikuti umur gue yang semakin tua.

Di post yang selanjutnya gue akan bongkar semua kebiasaan lama. Bongkar semua isi dari hal-hal yang menggusarkan. Untuk itu, gue ijin pamit. Ciaoo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar